Anak-anak Gomo, Nias (foto: Veronica W.) |
Sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa berdiskusi bersama teman-teman dari lapangan. Waktu itu, yang hadir di antaranya dari Nias, Pontianak, Singkawang, Sanggau, Sekadau, Halmahera, Poso, Surabaya, juga beberapa daerah urban Jakarta. Selain saya bisa membagi ilmu kepada mereka, saya pun mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari mereka. Saya juga mendapatkan banyak cerita tentang anak-anak.
Teman-teman peserta pelatihan banyak bercerita tentang kondisi anak-anak di daerah-daerah pelayanan mereka, terutama yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Sekali lagi, saya dapatkan cerita-cerita tentang bagaimana minimnya sumber bacaan anak yang bagus di daerah mereka. Kadang, bacaan ada, tetapi anak tidak bisa membacanya. Misanya, buku yang tersimpan rapi di perpustakaan sekolah atau kecamatan, tetapi anak-anak tidak boleh membacanya karena takut buku-buku itu rusak.
Ada lagi cerita tentang kemampuan anak membaca. Salah satu peserta berkomentar, “Jangankan menulis, Mbak. Untuk membaca dengan benar saja, mereka masih kesulitan.” Ada juga anak kelas 6 yang menulis huruf ‘b’ saja masih sering terbalik.
Tidak sekali ini saja saya mendapatkan cerita-cerita semacam itu. Kini, di tahun 2012, saya masih mendapatkan cerita yang sama. Menyedihkan, ya? Apa, ya, yang bisa kita lakukan untuk membantu anak-anak kita ini?
Posting Komentar
Posting Komentar